Bung, siapa pembunuh Munir?
Sudah tiga tahun aktivis HAM, Munir meninggal. Kematiannya masih menjadi misteri.
POLRI saat ini sedang kerja keras mengungkap misteri itu.
Bung tahu, POLRI mempunyai kesimpulan, penyebab kematian munir adalah racun arsenik. Munir diracun.
Tentu kesimpulan ini bukan tanpa dasar dan bukti yang kuat bung.
Semua orang saat ini menunggu, siapa orang yang memasukkan racun ke tubuh munir.
Bung tentu ingat bukan, bagaimana Paduka Yang Mulia, Sri Suhunan Amangkurat, Senopati Ing Alaga Kemaharajaan Mataram memerintahkan orang untuk meracun seorang dalang dan merebut istri sang dalang. Kelak istri sang dalang disebut Ratu Malang, yang makamnya di sebuah bukit dekat Segarayasa. Episone Ratu Malang adalah tragedi. Kisahnya telah menorehkan banyak tinda dan menitikan banyak air mata.
Langkah sang maharaja begitu rapi bung. Cerita yang beredar sang dalang meninggal karena sakit. Entah memang tidak tahu peracunan ini, rakyat Mataram sepakat mengamini langkah raja.
Bung, tentu di zaman digital ini, kematian mencurigakan akan diselidiki polisi. Penyebabnya akan diketahui dengan pasti. Dan seorang amangkurat pun akan dijerat pasal demi pasal kitab undang-undang, bila memang bersalah.
Lain Mataram, lain Indonesia. Mataram masih mengandalkan tawanan-tawanan portugis dalam membuat senjata api yang masih sederhana. Indonesia telah mampu kumbang besi F 16 dari negeri om sam dalam mempertahan kedigdayaanya.
Bung, benarkah era Windows vista mulai merambah dunia, racun masih digunakan dalam menyingkirkan orang ala amangkurat.
Kalau bung bertanya pada saya, siapa yang meracun Munir, saya akan menyelidiki dari motifasi pembunuhan bung. Ada apa dengan Munir sehingga perlu disingkirkan. Siapa orang orang yang kepentingannya terancam bila Masih hidup.
Bung juga jangan lupa, dimata bandit, tokoh anak muda dalam suatu film adalah bandit juga. Artinya orang orang dibelakang pembunuhan munir saat merasa benar dalam tugasnya menyingkirkan "pengkianat" negara tercinta indonesia. Jadi kita juga harus mencari pihak yang mempunyai motifasi "penyelamat negara" ini.
Satu hal lagi bung, bisa juga pembunuh Munir adalah orang-orang yang merasa "ikannya" dicuri Munir bila tetap hidup.
Bisa-bisa bung, munir mati karena bunuh diri, atau si pembunuh munir kalangan keluarga sendiri. Mungkin saja kan bung. Apa sih bung yang tidak mungkin di dunia ini. Tapi kembali ke motifasi, kita bisa menilai kadarnya. Diantara kemungkinan-kemungkian tadi , mana yang paling mungkin.
Dari motifasi kita menuju ke metode dan proses. Dari perencanaan, pelaksanaan dan penghilangan jejak, pembunuh Munir bisa ditakar powernya. Siapa sih yang bisa mengatur jadwal orang-orang PT Garuda Indonesia.
Dari metode da proses kita mencari bukti bung. Bukti sekecil-kecilnya pun bisa kita jadikan pijakan asal kuat. Kalaupun sulit, jadikan sebagai dasar pembuktian terbalik.
Sebagai contoh, pembicaraan telepon. Ada berpuluh-puluh pembicaraan telepon antara oknum pejabat dengan oknum garuda, oknum pejabat menyangkal dirinya berhubungan dengan oknum garuda. Tolong dong, dari berpuluh-puluh sambungan tadi, oknum pejabat dan oknum garuda membuktikan bahwa hubungan telepon itu bukan mereka yang bikin.
Jika memang mereka, pembicaraan apa yang menjadikan perlu bertelepon berpuluh-puluh kali. janjian ketemu di warung kopi, warung kopi mana, siapa yang menyaksikan mereka berada di warung kopi. Pokoknya dikejar terus bung. Karena bukti memang sedikit.
Itu contoh saja kok bung.
Jangan sampai pembunuh munir ketemu samapai operatornya saja. Si pemberi order adalah tugas utama polisi menemukannnya. Bukan cuma polisi, PT Telkom misalnya, tempat lalu litas pembicaraan telepon bisa membantu polisi, juga kita semua, yang merasa hidup bukan di zaman amangkurat lagi.
Salam dari perantauan.

Comments